Pupuk Organik Cair

Berangkat dari sebuah ide, kelompok nelayan Sari Tirto yang diketuai oleh Sutrisno bertekad untuk mencoba membuat Pupuk Organik Cair (POC). Hal yang melatarbelakangi kelompok nelayan Sari Tirto membuat POC adalah munculnya keluhan terhadap khasiat pupuk kimia. Beberapa petani dan penanam mengeluhkan bahwasanya beberapa tanaman mereka tidak bertumbuh bahkan mati diberikan pupuk kimia. Dengan mengantongi fakta tersebut, pada tahun 2012, Sutrisno bersama rekannya Tumino berinisiatif untuk mencoba memanfaatkan kotoran hewan ternak menjadi pupuk organik. Proses yang dilalui Sutrisno bersama rekannya tidaklah sebentar. Butuh waktu sekitar 4 tahun untuk mencari formula POC. Hingga sampai di tahun 2016, telah ditemukan formula yang ideal untuk satu produk POC. Selanjutnya, langkah awal yang diterapkan Sutrisno bersama rekan-rekan yaitu memberikan produk POC yang telah berhasil diproduksi untuk dicoba pada lahan demonstration plot (demplot) seluas 1,5 hektar.

Pada tahap pertama, penggunaan POC terhadap lahan persawahan masih menggunakan rasio takaran tertentu. Rasio yang dimaksud ialah campuran antara Pupuk Organik Cair dengan Pupuk Kimia yang sebelumnya biasa digunakan. Fakta di lapangan membuktikan adanya selisih yang signifikan antara pupuk kimia dan pupuk organik cair. Sebagai pembanding, dengan pupuk kimia, lahan seluas 1,5 hektar membutuhkan 200 kg pupuk kimia dari awal penanaman hingga panen. Sedangkan dengan pupuk organik cair, di lahan yang sama seluas 1,5 hektar hanya membutuhkan 150 kg. Alhasil, apabila petani menggunakan pupuk organik cair, petani dapat menghemat sekitar 50 kg pupuk. Pada percobaan  dan musim tanam berikutnya, lahan seluas 3,7 hektar membutuhkan pupuk kimia sebanyak 350 kg. Sedangkan apabila menggunakan pupuk organik cair, petani hanya membutuhkan 200 kg pupuk. Hingga saat ini, kelompok nelayan Sari Tirto telah berhasil memiliki lahan percobaan atau demplot (demonstration plot) sebanyak lima lokasi antara lain di dusun Kajar (1 lahan), Keron (2 lahan), dan Kabupaten Sukoharjo (2 lahan). Namun demikian, masih terdapat beberapa kendala salah satunya di Kabupaten Sukoharjo. Kendala yang terjadi ialah minimnya pengairan yang dikarenakan lahan sawah tersebut adalah sawah tadah hujan yang mana pada musim kemarau timbul kekeringan.

Pada proses produksi, produsen masih menemukan beberapa hambatan antara lain dari segi bahan baku, kepercayaan petani dan izin edar. Bahan baku untuk produksi POC tidak seluruhnya memiliki kandungan nutrisi yang tepat. Selain itu, masih juga terdapat petani yang enggan percaya terhadap POC yang disebabkan karena belum adanya izin edar dari badan legalisasi terkait.

Lalu sebenarnya apa keunggulan sesungguhnya POC dibanding pupuk kimia? POC dapat mengatasi keluhan petani yakni maraknya penyakit padi patah leher yang menyerang batang bawah, ujung tanaman hingga daun. Penyebab ini dimungkinkan karena adanya penggunaan pupuk kimia yang berlebihan dan jamur. Oleh karena itu, dengan  POC, petani mampu menghasilkan 1 karung gabah kering dengan selisih berat sebesar 6 kg yang mana lebih berat dan banyak daripada penggunaan pupuk kimia. Untuk hasil sebanyak 1 karung gabah basah dihasilkan selisih berat sebesar 8kg.

“Kedepannya, apabila sudah memiliki modal dan tercukupi diusahakan untuk dapat menampung hasil panenan dari lahan yang menggunakan pupuk organik.”

(Sutrisno, Ketua Kelompok Nelayan Sari Tirto, 2019)

 

 

Oleh :

Wijayanti Megasari (Fisika’2016)
Kristianto Hartoto (Akutansi’2016)
Jihaan Nadhiya Almaas (Teknologi Informasi’2016)

KKN-PPM UGM 2019
Unit JT-181

Facebook Comments