Harta Karun Hijau Tersembunyi di Desa Pokoh Kidul

Desa Pokoh Kidul menyimpan potensi pohon-pohon endemik / lokal yang sangat bermanfaat baik dari segi ekologis, ekonomis, sekaligus pariwisata alam.

Berikut adalah beberapa contoh pohon endemik tersebut :

POHON dan POTENSINYA

Pohon atau biasa disebut dalam bahasa jawa dengan “wit” memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem suatu kawasan lewat fungsi-fungsi fisiologisnya dan hasil dari pohon yang bisa berupa buah, bunga, batang, dan akar bisa dimanfaatkan untuk bahan makanan, bahan konstruksi, obat-obatan, dan kegiatan keagamaan lain.

Pohon bisa bermanfaat dalam 3 aspek yaitu aspek ekologis, ekonomi, dan sosial. Dalam hal ekologis, pohon mampu memberikan kenyamanan di daerah wisata, modifikasi suhu sebagai penaung, peredam kebisingan di daerah wisata, kontrol kelembaban udara, penahan angin, dan menghadirkan satwa (burung). Pohon juga bisa memiliki manfaat pada aspek ekonomi dari hasil-hasil pohonnya seperti kayu, buah, biji, daun dan bagian tumbuhan lainnya yang bisa dimanfaatkan untuk kehidupanmanusia. Selain itu pohon juga bisa bermanfaat dalam aspek sosial yaitu masyarakat akan mendapatkan manfaat kesehatan setelah mengkonsumsi hasil-hasil dari pohon, meningkatkan persediaan pangan, dan mewujudkan keadlian bagi masyarakat untuk mendapatkan kesempatan memiliki lingkungan yang sejuk, asri, serta lestari.

Dalam mendukung destinasi wisata alam, pohon merupakan salah satu faktor pendukung dan penting untuk menunjang atraksi dalam kawasan wisata tersebut. Bentuk tajuk pohon, batang, daun mampu menjadi daya tarik sendiri bagi wisatawan. Contoh pohon yang bisa mampu menjadi daya tarik wisata antara lain pinus (Pinus merkusii), trembesi (Samanea saman), Beringin (Ficus benjamina), Bungur (Lagerstroemia sp), Glodogan pecut (Polyalthia longifolia), Ketapang (Terminalia catappa), Ketapang kencana (Terminalia mantaly), Kelapa (Cocus nurifera), dan masih banyak lagi. Selain aktraksi, faktor amenitas dari suatu kawasan juga dapat didukung melalui kehadiran pohon dalam kawasan. Ketika tajuk pohon tersebut membentuk bayangan dibawahnya maka akan tercipta naungan yang bisa digunakan untuk beristirahat para wisatawan. Selain itu udara bersih dan sejuk yang dihasilkan pohon mampu memberikan rasa nyaman pada wisatawan yang hendak beristirahat. Pengaturan jarak tanam dan manajemen tajuk pohon yang tepat akan memunculkan berbagai manfaat dalam mendukung kegiatan berwisata alam. Manfaat ekologis pohon juga tidak hanya untuk sektor pariwisata saja, namun pohon-pohon ini bisa digunakan sebagai penjaga ekosistem dan lingkungan setempat karena kemampuannya untuk menyerap karbondioksida dan menyimpan aliran air di dalam tanah. Contoh konkrit dari fungsi pohon sebagai penyimpan air adalah terbentuknya mata air di Dusun Sidarjo yang muncul dari bawah akar Pohon Bulu (Ficus elastica). Mata air dibawah pohon tersebut mampu dijadikan sumber kehidupan sekaligus destinasi wisata di Pokoh Kidul.

Jumlah total spesies pohon yang ditemukan ada 54 spesies (Tabel 1). Pohon -pohon yang ditemukan di dominasi oleh pohon Leguminosae, seperti Sengon, Akasia, dll. Famili yang tidak kalah banyaknya lainnya adalah Moraceae dan Myrtaceae. Contoh pohon dari famili Moraceae adalah Beringin, Bulu, Sukun, ddll. Sedangkan pohon dengan famili Myrtaceae adalah jambu air, jambu biji, duwet, dll. Selain itu masih ada banyak famili yang ditemukan namun jumlahnya tidak terlalu banyak. Dalam pemanfaatannya pohon-pohon tersebut ada yang di manfaatkan kayunya seperti Jati (Tectona grandis), Sengon (Albizia chinensis), Akasia (Acacia mangium), Mahoni (Swietenia macrophylla), Kelapa (Cocos nurifera), Sengon laut (Paraserienthes falcataria), Sengon buto (Enterobilum cyclocarpum), dan masih banyak lagi. Saat ini pohon ini hanya dimanfaatkan/ditebang ketika masyarakat membutuhkannya untuk keperluan tertentu (tebang butuh), masih sedikit masyarakat yang membudidayakan pohon/tanaman keras secara intensif sampai menghasilkan kenampakan pohon yang optimal untuk kayu pertukangan.

Manfaat lain yang bisa didapatkan dari adanya pohon adalah buahnya. Ada buah yang bisa dimanfaatkan untuk bahan makanan, kosmetik, bahkan ritual keagamaan. Buah-buah yang dimanfaatkan sebagai bahan makanan antara lain adalah mangga, rambutan, sirkaya, sirsak, durian, dan masih banyak lagi. Sedangkan buah yang bisa dimanfaatkan untuk ritual keagamaan antara lain kelapa. Kelapa biasanya digunakan sebagai pelengkap sesajen seperti yang biasa dilakukan di Bali, Indonesia.

Pohon yan ditemukan di Desa Pokoh Kidul rata-rata adalah pohon yang ditanam oleh warga, hanya ada beberapa spesies saja yang tidak ditanam warga dan tumbuh secara alami seperti pada halaman, yang menampilkan beberapa pohon endemik desa seperti Cendana, Trembesi, Beringin, Bulu, Kedoya, dan Kenari. Cendana adalah salah satu pohon langka Indonesia.

CENDANA : THE HIDDEN GEMS

Cendana (Santalum album Linn.) atau di NTT diberi julukan “puteri rumah” merupakan tanaman asli dari Indonesia, tepatnya di pulau Timor dan sekitarnya. Desa Pokoh Kidul, Kabupaten Wonogiri menjadi tempat tumbuh alami spesies ini tepatnya di Dusun Sidarjo. Menurut keterangan dari warga, cendana ini sama sekali tidak ditanam/dibudidayakan dan tumbuh secara alami melalui “tukulan”. Cendana di Dusun Sidarjo biasanya ditebang ketika sudah besar oleh pengepul yang langsung datang ke rumah warga untuk membelinya sekaligus menebang. Harga kayu cendana bisa mencapai Rp 1-5 juta tergantung besar batang dan kualitas kayu (wangi).
Namun dewasa ini cendana mengalami penurunan populasi yang serius secara global, hal itu disebabkan oleh tekanan sosial dan gangguan alami, baik secara genetis maupun reproduktif angka cendana selalu mengalami degradasi sampai sekarang. Di habitat asalnya, keragaman genetiknya mencapai 0 hal itu disebabkan kemungkinan cendana untuk inbreeding lebih tinggi karena tekanan tersebut.
Cendana di Desa Pokoh Kidul sementara ini hanya dijual kepada pengepul yang datang secara tidak menentu dan tidak pasti. Cendana yang layak dijual hanya cendana yang wangi sedangkan yang tidak w angi tidak akan dibeli oleh pengepul.
Perlunya perhatian yang lebih dari pemerintah desa kepada pemanfaatan cendana ini secara berlanjutan, karena apabila spesies ini tidak dimanfaatkan dengan baik maka spesies ini tidak akan pernah menghasilkan pendapatan yang tinggi bagi masyarakat desa dan akan berdampak buruk bagi kelestarian cendana itu sendiri mengingat proses reproduksi cendana yang memiliki memungkinkan untuk inbreeding apabila kawin silang dalam populasi yang sempit.

Berikut adalah produk-produk dari kayu cendana yang bisa dikembangkan :

  1. Parfum dan wewangian dari bahan baku cendana, minyaknya didapat dari ekstrak kayunya.
  2. Masker dari kayu cendana ini konon memiliki kualitas yang tinggi.
  3. Kayu cendan juga bisa dibuat menjadi alat keagamaan, seperti tasbih, rosario, dan lainnya.
  4. Kayu cendana juga sering digunakan sebagai bahan-bahan sesajen atau sesembahan beberapa suku di Indonesia.

 

DAFTAR SPESIES POHON DI DESA POKOH KIDUL

 

No. Nama Lokal Nama Spesies Famili Status Kelangkaan
1 Jati Tectona grandis Lamiaceae Less Concern
2 Sengon Albizia chinensis Leguminosae Less Concern
3 Sengon laut Paraserianthes falcataria Leguminosae Less Concern
4 Akasia Acacia mangium Leguminosae Less Concern
5 Sukun Artocarpus altilis Moraceae Less Concern
6 Jambu mete Anacardium occidentale Anacardiaceae Less Concern
7 Mangga Mangifera indica Anacardiaceae Less Concern
8 Pete Parkia speciosa Leguminosae Less Concern
9 Randu Ceiba pentandra Malvaceae Less Concern
10 Mahoni Swietenia macrophylla Meliaceae Vulnerable
11 Flamboyan Delonix regia Leguminosae Less Concern
12 Sonokeling Dalbergia latifolia Leguminosae Vulnerable
13 Karet Hevea brasiliensis Euphorbiaceae Less Concern
14 Asam Jawa Tamarindus indica Leguminosae Less Concern
15 Bulu Ficus elasticus Moraceae Less Concern
16 Beringin Ficus benjamina Moraceae Less Concern
17 Cemara Casuarina equisetifolia Casuarinaceae Less Concern
18 Cendana Santalum album Santalaceae Vulnerable
19 Gamal Gliricidia sempium Leguminosae Less Concern
20 Jabon Anthocephalus cadamba Rubiaceae Less Concern
21 Jambu air Syzygium aqueum Myrtaceae Less Concern
22 Johar Cassia siamea Leguminosae Less Concern
23 Nangka Artocarpus heterophyllus Moraceae Less Concern
24 Sengon Buto Enterolobium cyclocarpum Leguminosae Less Concern
25 Trembesi Samanea saman Leguminosae Less Concern
26 Jeruk Citrus sp Rutaceae Less Concern
27 Kelengkeng Dimocarpus longan Sapindaceae Less Concern
28 Durian Durio zibethinus Malvaceae Less Concern
29 Glodogan pecut Polyalthia longifolia Annonaceae Less Concern
30 Melinjo Gnetum gnemon Gnetaceae Less Concern
31 Salam Syzygium polyanthum Myrtaceae Less Concern
32 Sawo Manilkara zapota Sapotaceae Less Concern
33 Kepuh Sterculia foetida Malvaceae Less Concern
34 Jambu biji Psidium guajava Myrtaceae Less Concern
35 Ginje Cascabela thevetia Apocynaceae Less Concern
36 Kedoya Dysoxylum gaudichaudianum Meliaceae Less Concern
37 Duwet Syzygium cumini Myrtaceae Less Concern
38 Talok Muntigia calabura Mutingiaceae Less Concern
39 Belimbing Averrhoa carambola Oxalidaceae Less Concern
40 Asam kranji Pithechelobium dulce Leguminosae Less Concern
41 Angsana Pterocarpus indicus Leguminosae Endangered
42 Sirsak Annona muricata Annonaceae Less Concern
43 Ketapang Terminalia catappa Combretaceae Less Concern
44 Jeruk bali Citrus grandis Rutaceae Less Concern
45 Belimbing wuluh Averrhoa bilimbi Oxalidaceae Less Concern
46 Apel Malus domestica Rosaceae Less Concern
47 Krei Payung Filicum decipiens Sapindaceae Less Concern
48 Murbei Morus rubra Moraceae Less Concern
49 Kayu manis Cinnamomum sp Lauraceae Less Concern
50 Ketapang kencana Terminalia mantaly Combretaceae Less Concern
51 Jambu bol Syzygium malaccense Myrtaceae Less Concern
52 Kenari Canarium sp Burseraceae Vulnerable
53 Srikaya Annona squamosa Annonaceae Less Concern
54 Kelapa Cocos nucifera Arecaceae Less Concern

 

Oleh :

Yosia Damar Sasongko Adi (Kehutanan’2016)

KKN-PPM UGM 2019
Unit JT-181

Facebook Comments