Kampung KB Norogo

Kampung KB ialah suatu wilayah setingkat RW/dusun/setara dengan kriteria tertentu yang memiliki keterpaduan program kependudukan, keluarga berencana, pembangunan keluarga, dan pembangunan sektor terkait yang dilaksanakan secara menyeluruh dan sistematis (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional, 2015). “Jadi kampung KB itu bukan cuma ngurusi tentang KB, anak, dan seperti itu saja, tetapi lebih ke bagaimana menyejahterakan masyarakat,” ujar Kepala Dusun Norogo, Bapak Sunarto. Kampung KB merupakan model atau miniatur pembangunan yang melibatkan seluruh sektor masyarakat (Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2017). Latar belakang adanya kampung KB salah satunya adalah untuk menggaungkan kembali program pengendalian pertumbuhan penduduk, namun kampung KB juga memiliki tujuan tersendiri. Tujuan utama diadakannya kampung KB adalah untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui keempat program terpadu tersebut dalam rangka mewujudkan keluarga kecil yang berkualitas (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional, 2015). Manfaat adanya kampung KB di antaranya meningkatkan kualitas hidup masyarakat, mengentaskan kemiskinan, me  ndekatkan pembangunan kepada masyarakat, memberdayakan potensi masyarakat, serta memenuhi kebutuhan masyarakat melalui pelaksanaan integrasi program lintas sektor (Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2017).

Kampung KB merupakan program yang diselenggarakan oleh pemerintah. Pembentukan kampung KB dapat berasal dari ditunjuknya suatu kampung oleh pemerintah dengan beberapa kriteria yang sudah ditentukan oleh pemerintah atau dapat juga suatu kampung/ desa yang mengajukkan diri kepada pemerintah untuk menjadi Kampung KB. Dusun Norogo Desa Pokoh Kidul merupakan salah satu dusun yang ditunjuk atau dipilih oleh pemerintah untuk melaksanakan program Kampung KB, hal ini dapat terlaksana salah satunya karena adanya dukungan dari pemerintah Desa Pokoh Kidul. Dusun Norogo ditetapkan menjadi Kampung KB pada tanggal 23 Mei 2017 oleh Bupati Wonogiri, Bapak Joko Sutopo.

Terdapat kriteria utama dan kriteria wilayah dalam pemilihan suatu dusun menjadi kampung KB. Kriteria utama yaitu jumlah keluarga pra sejahtera dan keluarga miskin di atas rata-rata wilayah serta jumlah peserta KB di bawah rata-rata pencapaian wilayah. Kriteria wilayah yaitu berada di wilayah kumuh, pesisir/nelayan, daerah aliran sungai, bantaran kereta api, kawasan miskin (termasuk miskin perkotaan), terpencil, perbatasan, kawasan industri, kawasan wisata, dan padat penduduk. Selain itu juga terdapat kriteria khusus yang meliputi kriteria data (kepemilikan data dan peta keluarga), kriteria kependudukan (angka partisipasi penduduk usia sekolah rendah), kriteria program keluarga berencana, kriteria program pembangunan keluarga, serta kriteria program pembangunan sektor terkait (kesehatan, sosial ekonomi, pendidikan, pemukiman dan lingkungan, lainnya) (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional, 2015). Dusun Norogo dipilih sebagai kampung KB karena menurut aparat desa, Dusun Norogo merupakan dusun yang memiliki tingkat kepadatan penduduk terpadat dibandingkan dengan dusun lain di Desa Pokoh Kidul. Selain itu, di sana sebagian besar warganya memiliki tingkat pendidikan yang tidak terlalu tinggi, maka dari itu sebagian besar warganya pekerjaannya hanya sebagai buruh, petani, nelayan dan tidak ada yang bekerja sebagai PNS, sehingga memiliki tingkat pendapatan yang rendah.

Prinsip program kampung KB adalah mewujudkan keluarga kecil bahagia sejahtera melalui pelaksanaan delapan fungsi keluarga (Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2017). Kegiatan Kampung KB Norogo meliputi berbagai aspek. Salah satu modal yang telah dimiliki Norogo adalah adanya posdaya yang mengelola buah tin menjadi berbagai produk seperti sirup, parfum, sabun, dll. Dalam bidang kesehatan, biasanya Kampung KB Norogo mendapatkan penyuluhan dari narasumber puskesmas dan bidan desa.

Masyarakat kini telah mulai merasakan adanya perubahan di Dusun Norogo.  “Perbedaan yang diamati banyak sekali, dulu kegiatan-kegiatan belum ada sekarang sudah ada banyak kegiatan, dulu buah tin belum dibikin sirup, parfum, sabun, teh, dll, sekarang sudah. Sekarang juga sudah pada bisa bikin tas rajut, laku dijual dan ada yang pesan. Bikin kue-kue untuk hajatan besar juga sudah bisa,” ujar ketua Kampung KB Norogo, Ibu Wiwin Haryani. Menurut Bapak Sunarto, dusun yang telah ditunjuk menjadi kampung KB seperti Dusun Norogo memiliki peran sebagai percontohan bagi wilayah lain. “Harapannya masyarakat bisa lebih ikut berperan aktif dalam berbagai kegiatan yang ada. Selain itu kami harap bisa lebih memanfaatkan peluang sebisa mungkin di sekitar rumah. Memanfaatkan lahan-lahan yang ada untuk ditanami tanaman atau pohon yang produktif. Saya juga berkali-kali mengatakan kepada masyarakat, jangan hanya meninggalkan bondo (harta) untuk anak, tinggalkan ilmu agar ke depannya lebih baik, bagaimana caranya anak-anak bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi,” jawab Pak Sunarto ketika ditanya mengenai harapannya untuk Kampung KB Norogo. Saat ini Kampung KB Norogo sedang dan akan terus berupaya mengembangkan budi daya pohon anggur, selain melanjutkan budi daya dan pengolahan buah tin. “Saat ini pohon anggur yang ditanam juga terlihat telah menunjukkan perkembangan yang baik”, ungkap Mbak Intan selaku pendamping Kampung KB Norogo.

 

Oleh :

Faradila Rosyida A. (Farmasi’2016)
Silvi Alifah H. (Keperawatan’2015)
Latifah Rizki Ardhana (Keperawatan’2015)

KKN-PPM UGM 2019
Unit JT-181

Facebook Comments