Buah Tin

Buah Tin sebagai Komoditas Lokal

dan Potensi Wisata

 

Penggalian potensi bertujuan menemukan hal-hal potensial di suatu desa yang diharapkan menjadi pendukung perekonomian masyarakat di dalamnya. Komoditas lokal salah satu hal yang dapat dijadikan sebagai rekomendasi potensi yang perlu dikembangkan oleh desa. Sekarang ini, potensi seperti komoditas lokal mulai dibaca sebagai peluang wisata di suatu daerah berdasarkan dengan kekhasan, sejarah, dan jenis-jenis yang diangkat oleh masing-masing daerah.

Di Dusun Norogo, Wonogiri, Jawa Tengah terdapat usaha pengolahan dari buah tin. Pencetus ide pertama kali dalam pengolahan buah tin adalah Pak Tumino. Pada tahun 2008, Pak Tumino terinspirasi dari saudara yang membeli 1 bibit buah tin seharga Rp. 250.000,00 dan membawa ke Norogo. Karena tidak terawat Pak Tumino merawat tanaman tin hingga berbuah, namun saat tanaman tin berbuah tidak diawali dengan bunga. Dari peristiwa tersebut muncul ide untuk mengembangkan buah tin dengan cara cangkok. Terdapat 2 jenis tanaman tin yang ditanam di Dusun Norogo, yaitu jenis Jordan dan Brown Turki (BT). Semua jenis tanaman tin dapat diolah, namun setiap jenis berbeda kandungan nutrisi didalamnya. Kedua jenis yang ditanam di Dusun Norogo merupakan 2 jenis yang memiliki nutrisi terbaik.

Sekarang ini pengelolaan tanaman tin dipegang oleh POSDAYA yang diawali dengan adanya KKN. Di badan POSDAYA sendiri dibagi POKJA-POKJA dari perawatan/ pembibitan, pengolahan, pemasaran, dan pupuk yang digunakan untuk pembibitan. Proses pembibitan dilakukan dengan cara cangkok untuk memperbanyak benih yang nantinya akan dijual sebagai modal pada proses pengolahan. Hasil produk pengolahan buah tin berasal dari daun dan buahnya. Olahan daun tanaman tin antara lain, minyak wangi, minyak telon (lontin), aroma terapi, dan teh. Buah tin diolah menjadi sirup.

Dalam proses pengembangan dan pengolahan buah tin terdapat hambatan dan tantangan. Yang pertama, musim. Saat datang musim hujan buah dari tanaman tin pecah, hal ini disiasati dengan penanaman pohon tin dengan kedalaman 20cm dari permukaan tanah. Kedua, hambatan dari hasil olahan produk sirupnya.  Daya tahan sirup tanpa pengawet adalah 4 bulan, untuk kedepannya diharapkan menemukan teknologi yang lebih memadai agar dapat menyelesaikan permasalahan tersebut. Hambatan lain yang berasal dari lingkungan adalah residu atau sisa-sisa dari pupuk anorganik yang mencemari tanah dan menyebabkan usia kesuburan tanah berkurang, disiasati dengan memberdayakan kelompok nelayan memproduksi Pupuk Organik Cair (POC).

Pemanfaatan buah tin dirasa dapat menyejahterakan masyarakat Dusun Norogo. Dengan memanfatkan penjualan bibit sebagai modal digunakan untuk pengolahan buah dan daunnya. Pengelolaan seperti perawatan, pengolahan, pemasaran, dan pupuk melibatkan masyarakat Dusun Norogo. Bahkan untuk pupuk dikembangkan lagi untuk memberdayakan masyarakat dari proses penanaman, perawatan, dan percontohan. Setiap program yang diusahakan diharapkan berjalan dengan baik dan kedapannya dapat terus menggali potensi-potensi pemanfaatan dari buah tin.

Ya kedepannya berjalan baik dan berjalan terus mencari latar belakang pemanfaatan dari buah tin. Ibarat kata angkatan bersenjata ada saatnya berlari, tiarap, dan ada saatnya untuk merangkak”  Ujar Pak Tumino.

Macam-macam produk yang dihasilkan dari tanaman tin, antara lain:

TEH

Salah satu hasil olahan daun tanaman tin adalah teh, pada proses pembuatan teh daun tin perlu dicampur dengan mlati agar memiliki aroma dan rasa yang mirip dengan teh pada umumnya ditambah dengan kekhasan dari rasa tin itu sendiri.

SIRUP

Sirup buah tin merupakan hasil olahan dari buah tin yang masih muda. Tanpa adanya pengawet, sirup buah tin ini memiliki daya tahan 4 bulan.

MINYAK WANGI (PARFUM)

Pengolahan dari daun tanaman tin tidak hanya berhenti di produk tehnya saja, namun juga berkembang ke produk minyak wangi (parfum). Tersedia 2 jenis kemasan parfum yang digunakan, yaitu roll on dan semprot.

MINYAK TELON dan AROMA TERAPI

Selain teh dan minyak wangi, pemanfaatan dari daun buah tin adalah minyak aroma terapi dan minyak telon. Keduanya sama-sama berasal dari daun tanaman tin. Yang membedakan adalah aroma yang ditekankan dan sasaran pemakai produk

SABUN 

Sabun ini terbuat dari kombinasi ekstrak daun tin dan daun bidara. Berwarna merah muda seperti daging buah dan memiliki aroma yang ringan dan tidak terlalu menyengat.

 

Oleh :

Wijayanti Megasari (Fisika’2016)

Kristianto Hartoto (Akutansi’2016)

KKN-PPM UGM 2019

Unit JT-181

Facebook Comments