Warga Peduli AIDS (WPA)

Warga Peduli AIDS (WPA) adalah bentuk gerakan warga masyarakat yang memiliki kesiapan, kemampuan dan kemauan untuk berpartisipasi dalam melakukan pencegahan dan penanggulangan masalah – masalah penyakit medis yang ditimbulkan akibat perilaku masyarakat. Penyakit-penyakit medis tersebut diantaranya adalah Penyakit kelamin (Infeksi Menular Seksual/IMS – red), Hepatitis C, dan HIV-AIDS.

Warga Peduli AIDS (WPA) terdiri dari perorangan, kelompok maupun organisasi di masyarakat yang memiliki kepedulian dan diwujudkan dalam bentuk tindakan nyata sekecil apapun di masyarakat agar mampu menciptakan perubahan perilaku dan sosial di lingkungannya sesuai dengan norma norma dan nilai yang berlaku.

Warga Peduli AIDS (WPA) bukan organisasi masyarakat (ORMAS) yang terstruktur dan tidak berbadan hukum. Setiap individu maupun kelompok masyarakat yang peduli terhadap permasalahan HIV-AIDS secara langsung akan melekat sepenuhnya kedalam sistem organisasi kewilayahan seperti RT, RW, Kelurahan dan Kecamatan. Organisasi Warga Peduli AIDS (WPA) yang digunakan adalah organisasi yang diatur oleh sistem kewilayahan di masing-masing daerah.

Guna Memudahkan proses koordinasi dan kerjasama, disetiap Desa/Kelurahan dapat melekatkan WPA kepada sistem dan organisasi yang ada di bawah koordinasi Pokja IV Kelurahan dan Kecamatan. Beberapa Desa/Kelurahan/Kecamatan yang sudah melekatkan WPA ke dalam sistem pemerintahan di Kelurahan dan Kecamatan seperti “Forum Warga Peduli AIDS” atau “Tim Penanggulangan AIDS Desa”. Hal ini yang kemudian disebut sebagai kearifan lokal dalam melakukan pencegahan dan penanggulangan HIV-AIDS di wilayahnya masing-masing.

Sejarah
Periode 2005 – 2006
Sejarah pelibatan masyarakat dalam isu kesehatan sudah dimulai sejak lama dan hal tersebut telah membawa dampak positive yang cukup besar di masyarakat. Sedangkan dalam isu HIV-AIDS, Warga Peduli AIDS (WPA) baru dimulai pada tahun 2005 saat aktivis LSM sedang gencar melakukan intervensi kepada kelompok masyarakat yang memiliki risiko tinggi (pengguna Napza Suntik) melalui program Harm Reduction. Banyak LSM yang menginisiasi pelibatan masyarakat saat itu dengan menggunakan nama yang berbeda-beda. Sebut saja salah satunya misalnya KHRM (Kader Harm Reduction Masyarakat) atau Muslim Peduli AIDS.

Nama Warga Peduli AIDS (WPA) sendiri muncul pada saat beberapa kelompok warga masyarakat di Kota Bandung melakukan Deklarasi atas kepeduliannya dalam acara Hari AIDS sedunia tahun 2006 yang diselenggarakan oleh salah satu LSM. Deklarasi tersebut dilakukan oleh 5 kelurahan yang sebelumnya sudah sangat sering melakukan upaya-upaya pencegahan dan penanggulangan HIV-AIDS di wilayahnya. Nama “Warga Peduli AIDS” muncul dalam naskah deklarasi tersebut, yang dibacakan oleh Ibu Nanni dan diikuti oleh seluruh Warga Kelurahan lain saat itu. naskah Deklarasi tersebut dapat dilihat dalam link berikut (silahkan Klik).

Gerakan Warga Peduli AIDS saat itu bukan hanya dilakukan di Kota Bandung saja karena di tahun yang sama di Kota Cirebon pun muncul yang namanya WAPA (Akronim yang berbeda dari Warga Peduli AIDS). Hampir seluruh Kelurahan dan Kecamatan bergerak melakukan inisiasi WAPA. Setiap warga dilatih secara masif dan diharapkan mampu melakukan tindakan nyata di wilayahnya. Pendekatan secara “TOP DOWN” menjadi prioritas gerakan ini. Namun akhirnya WAPA tidak berjalan sesuai dengan harapan dan nama WAPA diganti menjadi GEMPA (Gerakan Masyarakat Peduli AIDS).

Pada saat pergerakan di Cirebon terhenti, WPA Kota Bandung terus bekerja secara militan dari satu kegiatan ke kegiatan lain. Kegiatan yang paling banyak diketahui banyak orang adalah pada saat WPA menginisiasi kegiatan Kerja Bakti dengan mengumpulkan jarum suntik bekas di daerah dago (taman Flexy). 5 Kelurahan WPA di Kota Bandung bergerak menuju Dago dengan menggunakan 1 kendaraan warga dan kendaraan Bak terbuka milik salah satu staff LSM.

Periode 2007 – 2010
Pada tahun 2007 muncul lebih banyak WPA di Kelurahan/Kecamatan yang berbeda di Kota Bandung, seperti Ibu Cece, Kang Iwa, Mang Aceng, dan lain-lain. Gerakan yang dibangun kemudian mengarah pada proses-proses pendataan, rujukan, pendampingan dan kerjasama dengan puskesmas. Banyak kelompok masyarakat yang mengakses layanan di puskesmas dan didampingi oleh LSM pada saat itu.

Pada tahun yang sama, Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Nasional mengeluarkan buku panduan pembentukan WPA setelah sebelumnya melakukan banyak konsultasi dengan Warga Peduli AIDS di Kota Bandung dan kota lain. Namun buku tersebut jarang digunakan sebagai acuan setidaknya oleh Kota Bandung.

Pada tahun 2009, Gerakan WPA banyak difasilitasi oleh Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Bandung. Banyak Kelurahan dan Kecamatan diberikan bekal untuk dapat mengajak warga Masyarakat terlibat dalam upaya pencegahan dan penanggulangan HIV-AIDS. Hal tersebut sesuai dengan Surat Instruksi Walikota Bandung No.4 tahun 2004 yang ditujukan kepada seluruh Camat Di Kota Bandung.

Sebagai bentuk Jawaban Surat Instruksi tersebut, maka KPA Kota Bandung menyusun sebuah buku panduan pembentukan WPA di tingkat Kelurahan dan Kecamatan dan di realisasikan secara bertahap kepada seluruh kecamatan dan kelurahan di Kota Bandung. Dari sini kemudian muncul WPA-WPA lain yang dengan sukarela melakukan gerakan yang sangat militan seperti Ibu Ira Canra, Ibu Dedeh, Teh Ade, dan lain lain.

Periode 2011-2013
Dengan semakin banyaknya Warga Peduli AIDS yang melakukan kegiatan di masyarakat, beberapa kota/Kab lain di provinsi lain mulai banyak yang mengadop Warga Peduli AIDS sebagai metode lokal yang membantu dalam mendistribusikan informasi HIV-AIDS secara mandiri.

Kerjasama program antara Indonesia dengan Global Fund mulai mengembangkan WPA sebagai pendekatan yang harus dilakukan oleh seluruh pihak. Pelibatan kelompok masyarakat dalam melakukan pencegahan dan penanggulangan HIV-AIDS menjadi tag line program ini selain penjangkauan dan meningkatkan kualitas layanan.

sumber : http://rampakpolah.blog.com/rampakbpamadegan/warga-peduli-aids/

Facebook Comments

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan